Jumat, 10 Februari 2017

Hukum Memakai Gigi Palsu Dalam Islam














Agar terlihat tampak menarik, banyak orang-orang yang merawat tubuh mereka dengan mendatangi salon-salon kecantikan dan semisalnya. Apalagi kalau bagian wajah, semaksimal mungkin harus perfect, terutama Bagi yang giginya rontok atau tanggal. Kebanyakan dari mereka memasang gigi palsu yang sewarna dengan gigi aslinya, agar tidak tampak gigi palsunya.

Hukum memakai gigi palsu dalam Islam.
Syekh Shaleh Munajid Berkata: “Memasang gigi buatan ditempat gigi yang dicabut karena sakit atau rusak itu adalah perkara yang mubah (diperbolehkan). Tidak ada dosa di dalam melakukannya. Kami tidak mengetahui satupun dari ahli ilmu (Ulama) yang mencegahnya (memasang gigi palsu). Tidak ada perbedaan (hukum) antara dipasang secara permanen ataupun tidak.”

Dari keterangan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa hukum memakai gigi palsu dalam Islam adalah mubah (diperbolehkan). Hal ini tidaklah diharamkan. Yang diharamkan adalah jika tujuannya untuk mempercantik atau memperindah. Al-Lajnah Ad-Daimah berfatwa: “Tidaklah mengapa mengobati gigi yang copot atau rusak dengan sesuatu yang dapat menghilangkan bahayanya atau dengan mencabutnya dan menggantinya dengan gigi buatan (palsu) ketika hal itu memang diperlukan.

Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiya Allahu ‘Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang dari mengikir gigi, menyambung rambut dan mentato, kecuali dikarenakan penyakit.” {HR. Ahmad: 3945}

Asy-Syaukani menerangkan: “Perkataan Ibnu Mas’ud “kecuali dikarenakan penyakit”, dzahirnya adalah: Sesungguhnya keharaman yang telah disebutkan (dalam hadits) tidak lain di dalam masalah ketika tujuannya untuk memperindah, bukan dikarenakan untuk menghilangkan penyakit atau cacat. Maka, sesungguhnya itu (dengan tujuan pengobatan) tidaklah diharamkan.

Bagi orang yang giginya ompong, hal itu tentu sangat mengganggu saat makan, sehingga tidak mengherankan jika pemasangan gigi palsu tidaklah diharamkan, karena otomatis saat mengunyah makanan sedikit banyak akan mengalami kesulitan.

Hukum memakai gigi palsu dalam Islam adalah mubah, dengan tujuan pengobatan ataupun menghilangkan bahaya dari copotnya gigi yang asli. bahkan tidak satupun Ulama yang melarang memasang gigi palsu.

Kamis, 09 Februari 2017

Komplikasi Setelah Perawatan Saluran Akar Gigi













Prosedur perawatan saluran akar terkadang menjadi bagian yang diperlukan dalam perawatan gigi. Namun demikian, terkadang timbul komplikasi setelah perawatan saluran akar gigi, yang akan berdampak pada kondisi pasien pasca perawatan.

Dalam satu contoh, seorang dokter gigi akan memulai perawatan saluran akar dengan harapan bahwa Karies Gigi belum mematikan gigi dan
merusak mahkota serta akar gigi secara luas. Meskipun tujuannya baik saat mulai memasuki bagian dalam gigi, ia mungkin akan menghadapi situasi dimana membuatnya untuk melakukan pencabutan gigi tersebut. Komplikasi saluran akar lainnya akan mencakup situasi-situasi tidak terduga atau kecelakaan selama prosedur perawatan seperti perforasii saluran akar atau ketika kamar pulpa di mahkota gigi mengalami perforasi.

Gigi yang telah mati mengalami kerapuhan dan suatu fraktur akar dapat terjadi selama perawatan. Jika bagian gigi yang patah dapat diambil dan bagian gigi lainnya masih bisa dipertahankan, maka dokter gigi dapat memperbaiki gigi tersebut. Satu komplikasi terakhir adalah saat gigi yang telah dipersiapkan atau dipreparasi tidak diisi dengan benar, yang biasanya dalam keadaan over-fill (pengisian saluran akar melebihi panjang akar) atau under-fill (pengisian saluran akar kurang dari panjang kerja, yaitu panjang akar dikurangi 1 mm). Masalah yang paling umum terjadi adalah ketika pasien tidak datang kembali untuk menyelesaikan prosedur perawatan saluran akar. Terkadang tubuh akan melakukan resorpsi akar atau sakit pada saluran akar, sehingga dalam kasus ini sangatlah penting untuk kembali ke dokter gigi.

Dalam beberapa kasus, komplikasi perawatan saluran akar mencakup peradangan dan rasa sakit dari oksigen di udara, yang mengakibatkan timbulnya pertumbuhan bakteri. Bakteri dapat terdorong keluar dari ujung saluran akar. Terkadang selama prosedur perawatan saluran akar, bakteri akan terdorong keluar kedalam jaringan sekitar ujung saluran akar. Bila ini terjadi, jaringan sekitar tersebut akan mengalami peradangan dan dapat terinfeksi.
Suatu perawatan saluran akar dapat menusuk dinding gigi bila saluran akar tidak dapat ditemukan. Instrumennya fleksibel sehingga saat instrumen tersebut membengkok, ia akan dapat membuat lubang kecil di dinding gigi. Jika saliva dapat masuk kedalam lubang tersebut, maka gigi tersebut mungkin harus dicabut. Jika lubang tersebut berada dibawah batas gusi dan saliva tidak dapat mencapainya, maka lubang tersebut akan sembuh dengan sendirinya.

Komplikasi lainnya adalah saluran akar mungkin ada yang terlewat atau tidak sepenuhnya dibersihkan. Jika saluran akar ada yang tidak bisa ditemukan dan dibersihkan, gigi tersebut akan tetap terinfeksi dan perawatannya harus kembali diulang. Ini dapat terjadi bila saluran akarnya tidak diukur dengan tepat dan bagian pulpa terinfeksi masih tertinggal di bagian bawah saluran akar.

Salah satu komplikasi perawatan saluran akar yang dianggap umum adalah rasa sakit. Seringkali Anda tidak akan mengalami rasa sakit setelah perawatan saluran akar karena prosedur dan perawatan rasa sakit telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dokter gigi akan membuat mati rasa area kerja dan memberi Anda obat-obatan untuk mengendalikan rasa sakit setelah perawatan.
Meskipun mungkin jumlah komplikasi perawatan saluran akar tampak banyak, namun jumlah kejadian komplikasi tersebut sangat sedikit. Perawatan gigi telah mengalami kemajuan dan peningkatan sampai pada titik dimana jumlah efek samping, resiko dan komplikasi menjadi sangat sedikit. 10 tahun yang lalu mungkin ini pernah terjadi, namun saat ini prosedur perawatan gigi tidak memberikan rasa takut yang sama seperti sebelumnya karena adanya anestesi dan prosedur yang telah berkembang dengan pesat.

Perawatan Saluran Akar Gigi



















Gigi yang berlubang (karies) bisa mencapai email, dentin dan pulpa. Gigi berlubang yang mencapai email biasanya belum terasa sakit. Bila lubang pada gigi tersebut dibiarkan dan tidak ditambal maka proses terjadinya lubang akan meluas ke dentin. keluhan mulai timbul ditandai dengan rasa ngilu pada gigi. Rasa ngilu ini menandakan gigi masih vital (saraf dan pembuluh darah pada gigi normal). Lubang pada dentin akan bertambah dalam dan akhirnya mencapai pulpa, dimana pulpa ini berisi saraf dan pembuluh darah. Pada keadaan ini terjadi peradangan pada saraf dan pembuluh darah. Gigi akan terasa sakit hebat, berdenyut.

Gigi berlubang yang mencapai enamel dan dentin dapat langsung dilakukan penambalan permanen pada kunjungan pertama, bila lubang sudah mencapai pulpa maka harus dilakukan perawatan saluran akar. Tujuannya adalah membuang saraf dan pembuluh darah di pulpa yang meradang dan untuk memperbesar saluran akar. Yang akhirnya nanti saluran akar diisi dengan bahan pengisi saluran akar. Proses ini bisa berlangsung 4-5 kali kunjungan dan setiap kunjungan dilakukan penambalan sementara. Jadi, tidak semua kasus gigi berlubang bisa langsung ditambal permanen.

Setelah dilakukan pengisian saluran akar maka gigi bisa dilakukan penambalan permanen. Adapun tambalan permanen bisa berupa resin komposit, GIC, amalgam, onlay (logam tuang), crown. Itu semua tergantung dari sisa mahkota gigi, estetika dan segi ekonomi. Resin komposit, GIC dari segi harga tidak terlalu mahal, tetapi dari segi kekuatan kurang baik. Sedangkan onlay dan crown, dari segi kekuatan dan estetika sangat baik tetapi harganya cukup mahal. Untuk pemilihan bahan-bahan tambalan ini bisa disesuaikan dengan indikasi dan budget dari pasien